Tingkatkan Kreativitas, FIK Ubaya Ajak Desainer Perhatikan Warisan Kearifan Lokal

Tingkatkan Kreativitas, FIK Ubaya Ajak Desainer Perhatikan Warisan Kearifan Lokal

Fakultas Industri Kreatif Universitas Surabaya (FIK Ubaya) mengadakan webinar bertajuk ‘Cheat the Covid’ part 5, Sabtu (13/6/2020).

Tujuan forum ini agar bisa menginspirasi para penikmat dan pelaku usaha kreatif sehingga mampu memberikan pencerahan-pencerahan dalam berbagai aspek di tengah pandemi Covid-19.

Dosen FIK Ubaya, Viviany, SDs dalam pembahasan pertamanya mengajak peserta kembali memikirkan industri fashion di masa depan dalam materi bertajuk ‘Resurrection of Fashion Industry Through Collaboration and Ethical Design’.

Dalam paparannya, ia mengajak peserta untuk melihat kembali dampak industri fashion yang dinilai belum sustainable ini. “Industri tekstil terbesar pada jaman 18, segi investasi, jumlah pekerja dan penghasilan,” jelasnya.

webinar-Ubaya-2.jpg

Menurutnya, pencapaian ini menyembunyikan sejarah kelam, bahwa industri tekstil pada masa itu seringkali mengeksploitasi anak-anak sebagai pekerja karena berbagai hal, salah satunya karena biayanya murah.

Fashion berkembang pada abad ke 20 dan kita kenal dalam istilah mass manufacturing atau fast fashion. “Disebut fast fashion karena konsumsi masyarakat tinggi sekali,” sambung Viviany.

Kendati demikian, era fashion tersebut juga menyembunyikan banyak kisah kelabu. Salah satunya adalah penyiksaan hewan untuk diambil bulunya.

Harapan masih belum hilang, pasalnya banyak desainer dan aktivis yang mulai sadar bahwa fashion yang sustainable sangat penting.

Selama pandemi COVID-19 ini terhitung puluhan juta pekerja tekstil yang kehilangan pekerjaan. Viviany berargumen bahwa ada konsep industri fashion yang lebih baik yakni konsep kolaborasi.

Kolaborasi ini mengusung dua poin utama, yakni lokalisasi dan orientasi  pada tukang atau pekerja atau seniman (artisan). Sementara penghargaaan yang tinggi pada tukang atau pekerja atau seniman akan menciptakan lokal-lokal supplier baru.

“Yang nantinya bisa mendukung munculnya supply chain lokal. Sedangkan, lokalisasi diharapkan meningkatkan local job. Hal tersebut banyak membuka peluang pada orang-orang lokal untuk berkarya dan berpenghasilan melalui seni,” imbuh Viviany.

Narasumber kedua, Audit Yulardi, ST, MDs yang juga Dosen FIK Ubaya mengajak peserta untuk memahami kearifan lokal. Topik yang dibahas adalah ‘Hey Designers, You’ve got Messages from the Past!’.

Audit melihat bagaimana kearifan lokal bisa menjadi inspirasi baru bagi desainer-desainer dalam menyusun produk modern yang mampu bersaing dan menyelesaikan masalah.

webinar-Ubaya-3.jpg

Setiap produk atau proses pembuatannya mengandung nilai, makna, filosofi, dan banyak hal lain. Kearifan lokal berbicara soal hidup dan kebiasaan dalam masyarakat yang berkembang secara terus menerus. Yang ada dalam keseharian kita, tanpa kita sadari adalah kearifan lokal.

“Hal ini terlihat dari cara sebagian daerah menghadapi COVID-19. Di Sulawesi ada ramuan daun sirih dan campuran daun lain untuk disinfektan. Ini adalah contoh penerapan pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat lokal digunakan untuk menghadapi masalah terkini,” ucap Audit Yulardi.

Audit Yulardi melanjutkan jika budaya Jawa, Sunda mengenal Padasan atau Gentong/Tempayan dari tanah liat yang berisi air dan ditaruh di depan rumah. Hal ini dimaknai sebagai semangat untuk menjaga kebersihan.

Kearifan lokal ini menyimpan pesan yang sebaiknya dipelajari dan disesuaikan ke masyarakat jaman sekarang. Permasalahannya mungkin ajaran-ajaran tersebut tidak kita maknai sebagai hal yang logis, lebih ke mitos sehingga keindahan maknanya menjadi tersamarkan.

“Lalu pertanyaannya, bagaimana cara sebagai seorang desainer untuk menerjemahkan hal tersebut? Salah satunya dengan memahami pesan-pesan yang disampaikan oleh kearifan lokal. Memahami spirit masa lalu dan disesuaikan dengan lifestyle jaman sekarang,” tambahnya.

Mentransformasikan produk yang lama, menjadi sesuatu yang baru adalah tantangan sendiri bagi kita di jaman sekarang. Penerapan nilai Padasan atau Gentong atau Tempayan sebagai alat membersihkan diri dari luar ini bisa menjadi sesuatu yang modern.

“Hal ini penting sebab kearifan lokal akan membawa pencerahan kepada desainer tentang nilai sehingga produk baru yang diciptakan bermanfaat dalam kehidupan masyarakat. Warisan itu tersebar dalam keseharian kita,” pesan dosen FIK Ubaya ini.

Sumber : Times Indonesia