‘Disenthrall’ Jadi Ajang Pembuktian Lulusan Industri Kreatif Ubaya

Laju bisnis industri kreatif di Indonesia bisa dilihat dari kontribusinya pada ekonomi bangsa. Pada tahun 2017, Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) menyebut, industri kreatif Indonesia menghasilkan Rp 990 triliun pemasukan negara dan menyerap tenaga kerja sebanyak 17,4 persen.

Pada tahun 2019, industri yang bergerak di bidang fashion, multimedia, musik, periklanan, kerajinan, penerbitan, games, serta penyiaran ini diprediksi menyumbang PDB sebesar Rp 1.041 triliun dan menyerap tenaga kerja sebanyak 18,2 persen.

Untuk menghasilkan lulusan-lulusan industri kreatif yang potensial, 28 mahasiswa Fakultas Industri Kreatif (FIK) Universitas Surabaya (Ubaya) menunjukkan kebolehannya merancang busana di pagelaran Graduation Show 2019 bertajuk ‘Disenthrall’.

Dalam pagelaran itu masing-masing mahasiswa diwajibkan membuat lima rancangan busana serta 15 produk lifestyle mulai dari aksesoris kepala hingga sepatu yang dikenakan.

Prayogo Widyastoto Waluyo, selaku penanggung jawab acara, mengatakan kegiatan ini digelar bukan hanya untuk menampilkan karya tugas akhir mahasiswa. Tapi juga jadi ajang promosi di kalangan pecinta fashion, desainer, sampai ke fashion influencer.

“Di tahun keempat ini kami mengusung tema ‘Disenthrall’ yang mempunyai arti pembebasan. Pembebasan berarti bebaas bergaya, bebas bereskpresi dan dinamis,” ucap Prayogo pada Basra, Sabtu (21/9).

Dalam pagelaran ini, para mahasiswa membuat busana ready to wear yang terbagi menjadi dua tema kecil. Diantaranya 60 looks flawful untuk tren fashion fall winter 2019 dan 80 looks the games untuk tren fashion spring summer 2020.

Dengan adanya kegiatan ini, Prayogo berharap para mahasiswa mendapat bekal untuk menyelenggarakan pagelaran busana sendiri.

Sementara itu, Nancy Restiandini salah satu mahasiswa yang membuat desain berjudul Sentoki ini menjelaskan, jika baju yang ia buat terinspirasi dari para pemain Bassball Hokkaido di Jepang.

Bahkan, dalam pemilihan kainnya, perempuan yang akrab disapa Nancy ini harus memesannya langsung dari Cina. Lantaran bahan kain yang ia inginkan tidak ada di Indonesia.

“Busana ini menggunakan leather strap sehingga memberi kesan sporty. Terus desainnya saya buat agak menggelembung mirip seperti bola baseball. Begitu juga aksesories tas yang digunakan,” ucap mahasiswa 22 tahun ini.

Ia pun berharap, dengan adanya desain baju buatannya banyak masyarakat khususnya generasi muda lebih berani lagi dalam mempadu-padankan busana yang ia kenakan.

“Semoga orang-orang bisa terinsipirasi, bahwa bentuk celana itu nggak gitu-gitu aja. Terus mereka juga bisa lebih berani untuk tampil beda,” tutupnya.

Diketahui, pagelaran yang menampilkan 140 koleksi busana karya mahasiswa ini akan digelar pada Sabtu, 21 September 2019 pukul 19.00 di Chameleon Hall Tunjungan Plaza 6 Surabaya.

Sumber : Kumparan