Category: ARTIKEL

Kunjungi Fakultas Industri Kreatif Ubaya, Telkom University Ajak Kolaborasi Riset

Fakultas Industri Kreatif Universitas Surabaya menerima kunjungan dari Program Studi Desain Produk Telkom University Bandung pada Rabu, 19 Juni 2019. Kunjungan berlangsung di Ruang Rapat Fakultas Industri Kreatif lantai 2 Ubaya.

Rombongan Telkom University yang dipimpin oleh Ketua Program Studi Desain Produk Telkom, Asep Sufyan M.A., S.Ds., M.Sn., ini berjumlah empat orang dan disambut langsung oleh Wyna Herdiana, S.T., M.Ds., selaku Wakil Dekan Fakultas Industri Kreatif dan Guguh Sujatmiko, S.T., M.Ds., selaku Ketua Program Studi Desain Produk. Turut hadir juga para Dosen dan staff Fakultas Industri Kreatif Ubaya. “Terima kasih atas kunjungan dari rekan-rekan Telkom ke kampus kami. Semoga kami dapat memberikan informasi yang dibutuhkan,”sambut Wyna dengan ramah.

Kunjungan ini dilakukan untuk diskusi kurikulum kedua prodi. “Selain menjadi jembatan Telkom dan Ubaya dalam mempelajari sistem masing-masing prodi, harapan lainnya kita dapat bekerjasama dalam bentuk kolaborasi Riset maupun project bersama,” ucap Asep Sufyan.

Seluruh peserta yang hadir diajak berkeliling mengunjungi labolatorium dan fasilitas FIK. Mulai dari Laboratorium Sewing, Laboratorium Protomodel, Ruang Pameran, Studio DFP1hingga ke Ruang Singer.

Guguh Sujatmiko, S.T., M.Ds., mengatakan Sebelumnya pada tahun 2015 Ubaya pernah berkunjung ke Telkom University. “Saya berharap dari acara ini, FIK Ubaya dapat saling memberikan informasi terkait dunia industri dan fashion.”(ee)

Dua Mahasiswa FIK Ubaya Raih Penghargaan ‘Best Design’ Tingkat Nasional

Dua Mahasiswa FIK Ubaya Raih Penghargaan ‘Best Design’ Tingkat Nasional

Dua mahasiswa Fakultas Industri Kreatif Universitas Surabaya (FIK Ubaya), Arby Maulana dan Prasetiya Marani Kartajaya raih predikat ‘The Best Trend Implementation Design’ dalam ciptakan karya dari batang bambu pada ajang kompetisi Design Camp #1.

Kompetisi ini merupakan rangkaian acara Gelar Desain bertajuk “Bamboo Experience for Creative Millennials” yang diselenggarakan Asosiasi Desain Produk Indonesia (ADPI) di UKDW, Yogyakarta.

Arby menjelaskan jika kompetisi ini diikuti oleh 32 mahasiswa desain produk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) dari seluruh indonesia. Dirinya bersama Prasetiya sebagai mahasiswa FIK Ubaya angkatan 2017 menciptakan “Bambookoe” dari kreasi bambu berupa lampu tidur dan stationary.

Karya “Bambookoe” dibuat multifungsi. Ukiran pada produk lampu tidur memiliki filosofi yang terinspirasi dari icon kota Surabaya seperti patung Sura dan Baya, bambu runcing, anyaman, dan kobaran api.

“Selain digunakan sebagai lampu tidur, bagian bambu runcing dapat digunakan meletakkan kuas atau alat tulis. Kemudian ada ukiran api yang menunjukkan semangat arek-arek Suroboyo yang memiliki history perjuangan di kota Pahlawan. Terakhir saya membuat anyaman untuk memperkenalkan anyaman bambu ,” ungkap Arby ketika ditemui di Gazebo Psikologi, Kampus Ubaya Tenggilis, Jalan Raya Kalirungkut, Surabaya, Minggu (26/5).

Pada kompetisi ini, lanjutnya, seluruh peserta diajak untuk mengunjungi pengrajin bambu di Sentra Kerajinan Bambu Sendari. Peserta diminta untuk menciptakan kreasi bambu dengan desain yang kreatif serta inovatif dari sudut pandang mllenial.

Kompetisi diawali dengan workshop ‘Kerajinan Bambu Sinta’ dan peserta diminta belajar bagaimana cara mengolah bambu dan mempromosikan bambu menjadi produk yang tidak dianggap murah dan memiliki nilai jual.

“Melalui kompetisi ini, kami dapat memotivasi pekerja pengrajin bambu untuk menciptakan terobosan baru di era milenial. Jadi selain kami mendapat ilmu terkait pengolahan bambu secara tradisional dari mereka, kami juga memberikan feedback berupa ide baru yang bisa diproduksi pengrajin nantinya,” jelas Arby.

Sedangkan produk stationary terdiri dari beberapa tempat yang dapat digunakan untuk menyimpan peralatan kantor atau alat tulis, jam tangan, kacamata, dan masih banyak yang lain.

Proses perencanaan produk dilakukan oleh Arby dan Prasetiya dengan menggambar serta mempersiapkan produk selama kurang lebih dua minggu. Setelah eksplorasi dan terjun secara langsung di tempat pengrajin, membuat tim Ubaya menjadi lebih termotivasi untuk membuat produk bambu yang bermanfaat dan diminati banyak orang.

Karya “Bambookoe” oleh tim Ubaya dinilai memiliki proses pembuatan yang cepat serta sederhana namun memiliki estetika yang berdaya jual tinggi. Hal Ini membuat tim Ubaya mendapat predikat ‘The Best Trend Implementation Design’ karena melihat unsur keindahan, memiliki waktu produksi yang cepat, dan bisa diimplementasikan oleh pengrajin bambu.

”Saya berharap melalui desain karya produk yang telah kami buat, material bambu bisa lebih dikenal masyarakat luas dan bisa mengubah persepsi masyarakat bahwa bambu bisa menjadi produk yang elegan. Bambu luga mampu meniadi karya futuristik,” pesan Prasetlya.

Wyna Herdiana, S.T., M.Ds. selaku Kepala Program Studi Desain Produk FIK Ubaya sekaligus Dosen Pembimbing Kompetisi menuturkan bahwa Arby dan Prasetiya telah menunjukkan bahwa bambu blsa menjadi karya produk yang bagus.

“Disini mahasiswa belum pernah menggunakan bambu sebagai bahan prototype produk karena bentuk bambu yang silinder dan kurang luwes sehingga sulit Jika ingin dibentuk menjadi produk yang tidak bulat. Berbeda dengan rotan. Saya harap mahasiswa yang lain bisa terinspirasi dari karya Arby dan Prasetiya untuk bermain membuat produk menggunakan bambu,” pungkas Wyna. 

Sumber : memontum.com

NEKA, Permainan Miniatur Buatan Mahasiswa UBAYA

Mahasiswa Fakultas Industri Kreatif Universitas Surabaya (FIK Ubaya), Brian Kurniawan Jaya berinovasi dengan permainan bongkar pasang NEKA. NEKA berbentuk miniatur rumah adat Sumatera Barat, Bali, dan Sulawesi Selatan.  Simulasi permainan NEKA akan dilaksanakan hari Kamis, (21/3/2019) di Ubaya Student Center (USC) Kampus Ubaya Tenggilis, Jl. Raya Kali Rungkut, Surabaya.

Saat ini mengoleksi miniatur menjadi kegiatan yang digemari oleh sebagian orang. Hobi mengoleksi miniatur bisa menjadi investasi yang menguntungkan di bidang play set. “Saya melihat ada peluang bisnis yang bisa menarik minat kolektor. Selain menjadi hiasan meja di rumah, NEKA bisa dimainkan dengan cara bongkar pasang,” ungkap Brian menjelaskan karya tugas akhirnya.

Sebutan NEKA berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti macam. Selain itu, NEKA diambil dari kata Bhineka Tunggal Ika yang berarti berbagai macam tetapi tetap satu. Indonesia yang terdiri dari beragam budaya dan adat menjadi inspirasi pembuatan permainan NEKA. “Saya ingin membuat mainan yang bisa menjadi oleh-oleh wisatawan domestik maupun mancanegara ketika berlibur ke provinsi – provinsi di Indonesia,” lanjut anak laki-laki asli Surabaya ini.

Permainan 3D ini, terdiri dari mainan rumah adat dan figur boneka dari tiga provinsi di Indonesia yaitu Sumatera Barat, Bali, dan Sulawesi Selatan (Toraja). Tiga provinsi dipilih berdasarkan hasil riset yang telah dilakukan dengan mengunjungi Taman Mini Indonesia Indah dan Bali. Kunjungan ini membantu untuk mengamati dan melakukan riset secara langsung terkait replika asli rumah adat di Taman Mini Indonesia Indah dan rumah adat asli di Bali. Hasil riset pilihan pengunjung paling tinggi adalah provinsi Sumatera Barat, disusul provinsi Bali, dan terakhir provinsi Sulawesi Selatan. Indikator penilaian berdasarkan pilihan busana, detail ukiran, corak, dan gaya desain rumah adat yang bagus serta dianggap unik.

Permainan NEKA ini merupakan salah satu alternatif permainan yang ditujukan bagi remaja dan orang dewasa untuk melatih kreativitas dan kesabaran. “Jika ingin membuat rumah adat NEKA, butuh waktu kurang lebih sekitar 30 menit. Disiapkan pula buku panduan yang akan menunjukkan langkah-langkah cara membangun replikasi miniatur NEKA. Setelah rumah jadi, maka kita bisa bermain dengan meletakkan boneka figur didalamnya,” jelas Brian mahasiswa jurusan Program Studi Desain Manajemen Produk.

Kesulitan yang dihadapi dalam pembuatan permainan NEKA ada pada tahap 3DModelling menggunakan aplikasi dan menentukan skala ukuran yang tepat. Ukuran miniatur NEKA berbeda-beda. Miniatur NEKA dari Sumatera Barat memiliki dimensi ukuran 100cm x 67cm x 62 cm. Selanjutnya untuk miniatur NEKA dari Bali memiliki dimensi ukuran 104cm x 74cm x 28cm. Sedangkan miniatur NEKA dari Sulawesi Selatan memiliki dimensi ukuran 94cm x 44cm x 73cm. Tahap pengerjaan yang lama selama enam bulan dan membutuhkan ketelitian yang tinggi, membuat karya NEKA dibanderol dengan harga Rp.3.500.000 per play set.

Karya Brian mendapat apresiasi dari dosen pembimbing tugas akhir sebagai bentuk pelestarian budaya Indonesia dengan mereplikasi rumah adat dengan skala yang lebih kecil. “Selain memiliki nilai jual, ternyata karya ini membuktikan bahwa masih ada anak muda yang peduli dengan adat di Indonesia. Biasanya generasi millenials lebih suka sesuatu yang instan seperti audio visual dengan melihat saja. Harapan saya ada banyak lagi anak muda seperti Brian yang mau create, mengamati, kemudian merekonstruksi ulang dan menghasilkan karya yang sebenarnya untuk terus mencintai dan melanjutkan budaya nenek moyang kita secara turun menurun,” pesan Guguh Sujatmiko, S.T., M.Ds. selaku dosen pembimbing.

Sumber : beritajatim

Ini Keseruan Saat Para Mahasiswa Jepang Membatik di Ubaya

Ini Keseruan Saat Para Mahasiswa Jepang Membatik di Ubaya

Universitas Surabaya (Ubaya) mengajak 20 mahasiswa Universitas Tokai, Jepang, belajar membatik motif bunga sakura-keluwih. Mereka antusias mempelajari batik.

Para mahasiswa asing tersebut, tergabung dalam program The Student Workshops on Global Business in 2019 yang diselenggarakan oleh Fakultas Bisnis dan Ekonomika Ubaya. 

Kegiatan Batik Painting dilaksanakan di Gazebo FIK Kampus Ubaya Tenggilis Jalan Raya Kalirungkut, Kota Surabaya.

Pemilihan motif bunga sakura dan keluwih mencerminkan cultural exchange antara Indonesia dan Jepang. Bunga Sakura merupakan simbol penting bagi masyarakat Jepang, yang dinobatkan sebagai bunga nasional. 

Sedangkan keluwih adalah salah satu tanaman asli di Indonesia, yang juga digunakan sebagai logo Ubaya. Daun keluwih melambangkan cita-cita berilmu tinggi. 

Ini Keseruan Saat Para Mahasiswa Jepang Membatik di Ubaya

Mahasiswa Jepang diajak untuk belajar membatik dari awal proses mencanting, hingga teknik pewarnaan. Awalnya, mahasiswa Universitas Tokai Jepang menerima penjelasan mengenai bahan serta alat yang digunakan selama proses membatik. 

Selanjutnya proses mencanting pada kain dengan mengikuti pola bunga sakura-keluwih. Proses terakhir adalah pewarnaan. Teknik pewarnaan pada proses membatik menggunakan tiga warna primer yaitu merah, kuning, dan biru. 

Menurut Ninik Juniati, selaku pendamping sekaligus dosen Fakultas Industri Kreatif, teknik pewarnaan pada batik cukup beragam seperti natural dyeing, chemical dyeing, atau wax-resist dyeing. 

Kegiatan Batik Painting ini merupakan satu dari serangkaian program The International Student Workshops on Global Business in 2019. 

“Kolaborasi dengan budaya dan negara berbeda itu tidak mudah. Saya berharap dengan adanya kegiatan ini menjadi wadah bagi untuk menumbuhkan cultural intelegence, kita harus aware dengan kebiasaan, culture, norma, dan gaya,” ujar Aluisius Hery Pratono, selaku ketua penyelenggara.

“Jadi dengan diselenggarakan kegiatan ini, tidak hanya berpaku pada profit oriented atau ekspansi, tapi butuh mutual understanding yang sejalan dengan misi Ubaya yaitu multiculture dan crossculture,” ungkap 

Hiroshi Nakagawa, salah satu pengajar Universitas Tokai Jepang yang ikut berpartisipasi menuturkan, bahwa program ini bagus untuk meningkatkan keberanian dan rasa percaya diri mahasiswa Jepang dalam mengenal budaya dan lingkungan baru.

“Selain belajar budaya, mahasiswa Jepang bisa belajar untuk lebih berani dan tidak menjadi malu jika bertemu orang baru,” ujar Hiroshi.

Sumber : Sindonews

Peserta Workshop Ini Belajar Teknik Pewarnaan Alami Shibori Untuk Research Fashion

Image result for Workshop Pewarnaan Gunakan Bahan Alami Di Ubaya

SURABAYA – Tren fashion selalu berubah dan mengarah pada tema back to nature.

Melihat hal ini Fakultas Industri Kreatif (FIK) Universitas Surabaya bekerja sama dengan Pusbin (Pusat Bisnis dan Industri) menggelar workshop Pewarnaan Alam.

Sebagai dasar dari produk fashion, motif dan warna kain merupakan dasar ilmu yang harus dipahami.

Pemberian corak menggunakan warna alami tak hanya dengan membatik salah satu caranya yaitu dengan teknik pewarnaan Shibori.

Dalam workshop ini peserta diajak menggunakan pewarna dari daun tanaman indigovera jenis Strobilantes Cusia.

“Hasil belajar hari ini akan digunakan untuk bahan research fashion awal yang akan terus dikembangkan khusunya tentang pewarnaan. Ke depan, hasil penelitian ini akan dipakai untuk mendesain pakaian di beberapa mata kuliah,” ungkap Guguh Sujatmiko, ketua acara.

Nantinya, setelah mengetahui pembuatan pola pada pewarnaan alami ini dapat menjadi acuan dalam membuat produk fashion lainnya.

Siswa SMA juga dilibatkan agar bisa mengembangkan dasar fashion dengan pewarnaan alami.

Marina Gosali, narasumber dalam workshop ini menjelaskan teknik Shibori asli Jepang ini, merupakan cara mewarnai pada kain dengan beberapa teknik untuk menghasilkan nuansa, pola, dan hasil yang berbeda.

Teknik yang akan diajarkan yaitu itajime shibori (melipat), ori nui shibori (jelujur), kanoko shibori (ikat).

“Memang menyerupai cara pembuatan jumputan di Jawa. Tapi teknik dari Jepang ini lebih variatif hasilnya dan banyak cara membuat motifnya,”ungkapnya di sela pemberian workshop pada pelajar dan komunitas kreatif sekaligus alumnus FIK Ubaya di lapangan voli Ubaya, Selasa (18/7/2017).

Sedangkan pewarna alaminya, digunakan daun tanaman indigovera jenis Strobilantes Cusia yang diolah dan menghasilkan warna biru.

Sementara hasil olahan daun tanaman indigovera dan juga kayu secang yang akan menghasilkan warna merah diolah dalam bentuk pasta.

Peserta workshop ini bisa memilih berbagai teknik Shibori untuk di terapkan pada kain katun berwarna putih sepanjang 2 meter.

Melisa Irawan, siswa SMA Petra 4 Sidoarjo mengungkapkan ia memilih teknik jelujur untuk motif kainnya.

Menurutnya lebih mudah membuat jahitan teknik jelujur dibandingkan teknik lainnya.

“Mudah saja teknik ini tinggal menjahit sederhana seperti menjahit baju biasa. Terus nanti motifnya bagus,”lanjutnya.

Kemudian kain dicelupkan ke cairan mordant supaya serat kain melonggar baru di masukkan ke pewarna biru dari olahan daun tanaman indigovera jenis Strobilantes Cusia.

Agar pewarnaan sempurna, pencelupan dilakukan hingga 4 sampai 5 kali kemudian dijemur hingga kering.

Sumber : Surya

Budaya Majapahit Kekinian, Itulah Kreasi Mahasiswa Ubaya

Image result for Mahasiswa Ubaya Ciptakan Karya Uri – Uri Kebudayaan Majapahit

Surabaya – Mahasiswa Fakultas Industri Kreatif, Universitas Surabaya (Ubaya) menciptakan dan memamerkan karya bertajuk “Uri-Uri”. Rabu (21/12/2016). Karya ini mengeksplorasi dan mengadopsi budaya pada masa kejayaan Kerajaan Majapahit di trowulan menjadi sebuah karya baru yang kekinian.

Berbagai karya yang dibuatnya seperti tas, perhiasan, mural, dan kerajinan tangan lainnya.

Dosen pengampu mata kuliah Ragam Hias, Prayogo Widyastoto Waluyo menjelaskan, sebelumnya para mahasiswanya melakukan survei ke empat candi yaitu Candi Brahu, Candi Tikus, Candi Bajang Ratu dan Candi Wringin Lawang.

“Observasi dilakukan pada bulan September supaya mahasiswa dapat mengenal, mengamati, menelaah dan kemudian dapat diterjemahkan ke dalam karya baru sesuai dengan kreatifitas masing-masing,” kata Prayogo.

Ia mengatakan, tujuan dari penugasan pembuatan karya ini adalah untuk memperkenalkan budaya masa lampau dan juga melestarikan kekayaan budaya Indonesia. “Tidak hanya membuat karya, mahasiswa juga harus mengetahui makna dan filosofi dari setiap peninggalan tersebut,” paparnya.

Selanjutnya, salah seorang dosen mata kuliah yang sama, Wyna Herdiana mengatakan tema yang dipilih pada uri-uri ini adalah candi yang berada di Trowulan. Alasannya karena Trowulan identik dengan Majapahit.

“Majapahit merupakan salah satu kerajaan terbesar yang pernah ada di nusantara. dan Peninggalan kerajaan Majapahit memiliki potensi untuk dijadikan referensi dalam berkarya,” terang Wyna.

Salah satu mahasiwa Fakultas Industri Kreatif, Natasha Alverina mengaku membuat karya tusuk konde. Alasannya karena tusuk konde unik dan jarang digunakan orang pada era modern ini.

“Desain tusuk konde terinspirasi dari bentuk bangunan candi dan lambang kerajaan Majapahit, yaitu matahari. Semoga diera modern ini tusuk konde unik dapat digemari masyarakat,” terang Natasha Alverina.

Sementara itu, Ivan Hendrika dan seorang temannya, Fina Angga, membua video mapping terinsipirasi dari candi Tikus. Dia membuat miniatur candi dari stereofom yang dicat hitam.

Miniatur candi kanvas disorot proyektor dengan materi video yang selaras. “Biasanya video mapping ini digunakan untuk background pementasan teater,” kata Ivan.

Sumber : Beritajatim

Eksperimen Mahasiswa Ubaya, Hasilkan Rancangan Busana Kerja Ala Tentara Jepang

Image result for Eksperimen Mahasiswa Ubaya, Hasilkan Rancangan Busana Kerja Ala Tentara Jepang

Surabaya – Terinspirasi dari baju Zirah oyora yang dipakai oleh tentara Jepang pada zaman dahulu, Mahasiswa Universitas Surabaya (Ubaya) merancang baju yang cocok digunakan untuk bekerja dan pesta ala Zirah Samurai “Kinzoku”.

Perancang Zirah Samurai “Kinzoku”, Evlin Alvionita di Kampus Ubaya, Jumat (2/12/2016), mengungkapkan. Berlatar belakang menyukai budaya Jepang, dan ingin mengombinasikan antara seragam tentara dan baju kerja yang biasanya di pakai orang Indonesia untuk kekantor yang sangat minimalis, makadari itu dirinya mendesain Kinzoku dalam tugas akhir yang ditempuhnya.

“Kinzoku memiliki arti Metal, dan jika di Desain baju kantor rancangan ini juga masih cocok. Semua baju dapat dipakai untuk kerja tetapi juga bisa dipakai hang out. Dari baju zirah samurai, banyak hal yang bisa dikembangkan seperti Obi Belt, High Slit, Inverted Box Pleats dan juga Cut Out,” ungkap Evlin.

Dari karya yang dibuat oleh mahasiwa Fakultas Industri Kreatif ini terdip dari beberapa jenis. Diantaranya, City Wear dengan memakai bahan-bahan seperti polyester linen, Organdi, Duchesse Sateen, dan juga printed fabric.

“Kesulitan hanya dalam mempersiapkan desainnya, karena bagian dari eksperimen saya. Untuk merancang dan melakukan riset, membutuhkan waktu selama lima bulan,” paparnya.

Karya Evlin nantinya akan dikemas dalam Graduation Show di hari Sabtu (3/12). Selain itu enam mahasiswa Fakultas Industri Kreatif juga akan memamerkan lima rancangannya.

Sementara itu,Kepala Program Desain Fashion dan Produk Lifestyle Fakultas Industri Kreatif, Hany Mustikasari mengatakan tema besar dalam Graduation Show yaitu “Tancy” yang berarti sosok yang tangguh atau kuat.

“Hal ini menggambarkan ketangguhan mahasiswa setelah berhasil melalui tugas akhir yang merupakan hasil kerja keras mereka,” kata Hany Mustikasari. 

Dijelaskannya, mahasiswa memiliki konsep dan inspirasi yang berbeda-beda melalui 40 desain pakaian dan 15 asesoris selama satu semester. Kemudian 1 semester berikutnya mereka harus menjahit sendiri karya mereka minimal tiga pakaian dan dua sisanya boleh diserahkan kepada penjahit, termasuk lima sepatu dan asesoris lainnya. 

“40 desain tersebut terbagi atas 4 jenis baju yaitu casual, City Wear, Coctail dan Evening Wear,” jelas Hany Mustikasari.

Diketahui, mahasiswa memang diwajibkan untuk menjahit sendiri karyanya, karena seorang desainer selain bisa merancang desain, tetapi juga harus dibekali dengan kemampuan produksinya.

Sumber : beritajatim

Kreatif, Mahasiswa Ubaya Bikin Casing HP Dari Limbah Rotan

Image result for Kreatif, Mahasiswa Ubaya Bikin Casing HP Dari Limbah Rotan

SURABAYA – Ternyata rotan tidak hanya bisa menjadi bahan baku mebel seperti lemari, meja, atau kursi saja. Di tangan Isahito Norhatan, mahasiswa Fakultas Industri Kreatif Universitas Surabaya (Ubaya) ini menyulap rotan sebagai bahan utama cover handphone (casing).

Lebih tepatnya, Isahito menggunakan limbah kulit rotan yang biasanya dibuang karena tidak terpakai.

“Indonesia kan terkenal menjadi supplier rotan terbesar. Nah kadang dari rotan-rotan yang dibuat itu ada limbah berupa kulit. Dan itulah yang lantas saya buat untuk casing hp seperti ini,” ujar Isahito saat menunjukkan produk yang diberinya nama Livcase.

Mahasiswa Jurusan Desain Manajemen Produk angkatan 2011 ini lalu menjelaskan bahwa pembuatan Livcase ini mudah dan butuh kesabaran.

Pertama limbah kulit rotan dia ubah menjadi serat rotan. Lalu serat rotan itu dipress dan dicetak menjadi bentuk persegi panjang dengan ukuran 12,6 cm x 6,1 cm.

“Setelah dicetak nanti tinggal dirapikan dan diberi warna,” tambahnya.

Kebetulan produk Livcase ini memiliki tujuh warna pilihan. Antara lain deep red, natural green, dark blue, natural, light red, woodish red, dan tarum green.

“Untuk pewarnanya, saya menggunakan pewarna alami seperti dari daun tarum untuk warna hijau dan kayu secang untuk warna coklat,” ujar Isahito saat ditemui Rabu (20/7).

Meski terbuat dari bahan limbah rotan, Isahito menjamin jika Livcase tahan lama karena dengan bahan tersebut hp jadi tahan gores.

Selain itu, bahan yang ramah lingkungan dan desain ramping menjadikan Livcase cocok dipakai oleh semua generasi.

Yang berjiwa muda bisa memakai Livcase dengan warna yang mencolok seperti light red, sedang warna natural dapat dipilih bagi yang suka warna-warna kalem.

Dia berharap ke depannya Livcase tidak hanya untuk casing HP saja namun juga mampu untuk meng-cover peralatan elektronik lainnya seperti kamera atau TV.

Sumber: Jawa Pos

Keren, Sepatu Bongkar Pasang Kreasi Mahasiswa Ubaya

Image result for keren, Sepatu Bongkar Pasang Kreasi Mahasiswa Ubaya

SURABAYA – Galih Phuja Argian memang termasuk anak muda kreatif dengan segudang ide.

Di usianya yang masih 21 tahun, mahasiswa Universitas Surabaya (Ubaya) ini jago mendesain sepatu untuk kalangan anak muda.

Bahkan baru-baru ini, Galih sapaan akrabnya membuat sepatu unik dengan menggunakan sistem modular.

Sistem yang belum banyak dipakai di industri sepatu ini menggunakan resleting yang ditempatkan di bagian tengah sepatu sehingga sepatu dapat dibongkar pasang.

Galih menceritakan awal memiliki ide membuat sepatu dengan sistem modular ini ketika melihat dirinya sendiri dan teman-temannya yang gemar membeli sepatu dengan jenis dan model yang sama.

“Sering beli sepatu dengan model yang sama. Kadang beli ya karena solnya sudah rusak, padahal bagian atasnya masih bagus. Jadi terpikirlah membuat sepatu yang bagian atas dan solnya dapat diganti sesuai selera,” jelas mahasiswa Jurusan Desain dan Manajemen Produk angkatan 2013 ini.

Di bawah nama brand Ostha Footwear, sneakers modular kreasi Galih menggunakan kulit sapi untuk bagian luarnya dan kulit domba di bagian dalamnya.

Pemilihan warna coklat yang natural dan cocok dipakai oleh pria membuat sneakers ini cocok digunakan ketika jalan-jalan atau pergi ke acara resmi.

Dalam pembuatannya, Galih yang juga mahir mendesain sepatu boots ini membutuhkan waktu empat bulan. Dengan trial empat kali dari segi keamanan dan kenyamanan, sneaker karya yang merupakan pemenuhan tugas mata kuliah Lifestyle Produk Desain Project 4 ini memang sudah bagus dan siap untuk diproduksi masal.

Ke depannya, Galih berharap tidak hanya sneakers pria saja yang dia kreasikan dengan menggunakan sistem modular tetapi juga sepatu untuk para wanita.

Apalagi sepatu wanita lebih banyak model dan variasinya.

“Banyak harapan sih tapi saya ingin agar sepatu ini dapat diterima masyarakat terlebih dahulu,” harapnya saat ditemui Selasa  (28/6).

Sumber : jawapos

Unik, Aksesoris Ini Terbuat Dari Kulit Durian Lho!

Image result for Unik, Aksesoris Ini Terbuat Dari Kulit Durian Lho!

SURABAYA – Siapa coba yang tak kenal dengan si raja buah, durian. Yap, selain buahnya yang bermanfaat, ternyata kulit durian bisa dijadikan kerajian yang bernilai ekonomis tinggi lho!

Lirik saja apa yang dilakukan mahasiswi Universitas Surabaya atau yang lebih dikenal dengan Ubaya, Stella Christy, ini. Dikutip dari laman Antaranews, Stella berinovasi memanfaatkan kulit buah favoritnya ini menjadi aksesoris atau perhiasan. Ia pun mencoba membuat kalung, gelang, anting-anting, cincin, dan hiasan rambut dari buah berduri ini.

“Saya memang suka durian, karena itu saya sering melihat kulit durian dibuang begitu saja, padahal jumlah kulit durian lebih banyak daripada isinya,” ungkap Stella.

Ia tiba-tiba saja mendapat inspirasi ini saat sedang membeli durian di Trawas, Mojokerto. Mahasiswi Jurusan Desain Manajemen Produk Fakultas Industri Kreatif Ubaya itu pun akhirnya mengajukan tema ini kepada dosen pembimbingnya dan beliau tidak keberatan. Gadis kelahiran Semarang itu pun berniat mengembangkan hasil kreasinya itu untuk wirausaha.

“Proses pembuatannya tidak begitu sulit, karena hanya membutuhkan ketelitian dalam memilih kulit durian yang bebas dari kebusukan ketika dibiarkan dalam beberapa hari,” katanya.

Salut buat Stella ya! Semoga kreativitasnya bisa menjadi inspirasi bagi masyarakat agar bisa menciptakan produk-produk ramah lingkungan.

Sumber : Jitunews